bottom


Curriculum Links

Kurikulum Sekolah Kami

Kurikulum SDIT Internasional Luqman Al Hakim
 
Program Satu Minggu Pertama
Kami ingin anak-anak belajar dengan antusias dan bahagia. Kami tahu mereka hanya akan belajar jika mereka merasa aman dan nyaman di sekolah. Oleh karena itu kami meberikan banyak waktu anak-anak untuk menyesuaikan diri. Di minggu pertama awal semester satu bagi kelas 1, kami memberikan semacam minggu pengenalan di mana anak-anak tidak langsung belajar hal-hal yang bersifat akademik. Pada program minggu pertama anak-anak diajak untuk melakukan kegiatan pengenalan baik melalui kegiatan game, outing mengenal lingkungan sekolah dan kegiatan-kegiatan menyenangkan lainnya.

British National Curriculum dan Kurikulum Nasional Indonesia

Kami percaya bahwa anak-anak adalah generasi masa depan. Tantangan dan situasi yang akan anak-anak hadapi pastilah akan berbeda dengan yang kita –para orang tua- alami sekarang. Pepatah bijak mengatakan ”Anak-anak bukanlah milik orang tuanya, mereka adalah milik zamanya.”
Kami -sebagai sekolah yang lahir dari kesadaran pentingnya mempersiapkan generasi Islam masa depan- menyadari bahwa terjadinya penemuan ilmu dan teknologi menuntut seorang pribadi pembelajar yang selalu ingin tahu dengan hal baru, yang mampu melihat permasalahan sebagai tantangan bahkan kesempatan untuk berkembang, memiliki jiwa kreatifitas dan daya inovasi yang tinggi, berwawasan luas tanpa meningalkan nilai budi pekerti luhur khususnya akhlakul karimah yang diajarkan Rasulullah Muhammad saw. dan keyakinan  dan kecintaan yang utuh pada Keesaan Yang Hakiki, Allah SWT.
Di sinilah esensi pendidikan mendapatkan tantangan. Hiruk pikuk mengejar nilai akademik (baca; UAN) sering kali menjebak fokus pendidik pada capaian angka dan lupa bahwa ilmu tidak cukup hanya sekedar tahu dan hafal (transfer). Ilmu adalah arahan jalan hidup yang mengubah (transform), dari buruk menjadi baik. Baik itu ilmu umum maupun ilmu agama.
Maka dari itu kami mencoba mengambil inisiatif untuk kembali fokus pada peran pendidikan yang esensial; membangun karakter dan keterampilan hidup pada diri anak. Hal itu berarti mengubah proses pembelajaran dari guru sebagai pusat sumber belajar dimana murid menjadi objek, ke arah murid sebagai subjek belajar. Dalam proses ini murid diberi kesempatan untuk mengalami proses-poses mencari dan menemukan jawaban yang kami sebut Inquriy Learning Prosess atau Sistem Pembelajaran Menemukan. Sistem pembelajaran ini didukung oleh kebijakan program-program sekolah yang berupaya memberikan pengalaman nyata bagi setiap murid. Hal itu berarti pula kami harus menyediakan sebuah kurikulum yang bisa membantu guru untuk menyajikan pembelajaran yang menuju ke arah sana. Atas dasar pemikiran tersebut  kami menilai dan memutuskan untuk menggunakan British National Curiculum sebagai kurikulum oprasional kami dengan melakukan beberapa penyesuaian tema yang disesuaikan dengan karakter lokal sekolah yang selaras dengan target capaian kurikulum nasional Indonesia. Hal ini diputuskan untuk memudahkan dan membantu para pengajar untuk lebih dapat mengembangkan proses pembelajaran yang bersifat lebih benyeluruh meliputi aspek melakukan, mengalami, merasakan, melihat, mendengar, memikirkan, menyimpulkan yang kami sebut sebagai metode belajar menemukan atau dengan bahasa lain metode belajar inquiry.
Dasar pemikiran metode pembelajaran menemukan ini adalah dasar pemikiran konstruktivisme dimana  salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld dalam Suparno, 1997). Dalam proses konstruksi ini, diperlukan kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman; kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan (justifikasi) mengenai persamaan dan perbedaan; dan kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain.  Pemahaman dapat dibangun oleh siswa sendiri, secara aktif dan kreatif. Hal ini, sesuai dengan pendapat para ahli konstruktivisme, Whatley, Gunstone&Gray (dalam Suparno, 1997) mengatakan bahwa pengetahuan tidak diterima siswa secara pasif, melainkan dikonstruksi secara aktif oleh siswa. Gagasan-gagasan atau pemikiran-pemikiran guru tidak dapat dipindahkan langsung kepada siswa melainkan  siswa sendirilah yang harus aktif membentuk pemikiran atau gagasan tersebut dalam otaknya.
Suparno (1997) mengemukakan bahwa prinsip-prinsip yang sering diambil dari konstruksivisme antara  lain: (1) pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif, (2) penekanan dalam proses belajar terletak pada siswa, (3) mengajar adalah membantu siswa belajar, (4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir, (5) kurikulum menekankan partisipasi siswa, dan (6) guru adalah fasilitator.
 
Dari beberapa teori tentang konstruktivisme diatas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik pendekatan pembelajaran konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1.  Mengaitkan pembelajaran dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa sehingga pengetahuan akan dikonstruksi siswa secara bermakna. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan pengalaman belajar yang sesuai dengan pengalaman yang dimiliki oleh siswa.
2.  Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi  yang realistik dan relevan, sehingga siswa terlibat secara emosional dan sosial. Dengan demikian diharapkan setiap pembelajaran menjadi lebih menarik bagi mereka dan akan membuat mereka lebih termotivasi untuk belajar.  Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyediakan tugas-tugas pembelajaran yang berhubungan dalam kehidupan sehari-hari.
3.  Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka, menyediakan masalah yang dapat diselesaikan dengan berbagai cara atau  yang tidak hanya mempunyai satu jawaban yang benar.
4.  Mendorong terjadinya interaksi dan kerjasama dengan orang lain atau lingkungannya, dan juga mendorong terjadinya diskusi terhadap pengetahuan baru. 
5.  Mendorong penggunaan berbagai representasi atau media.
6.  Mendorong peningkatan kesadaran siswa dalam proses pembentukan pengetahuan melalui refleksi diri. Dalam hal ini, penting bagi siswa untuk di dukung kemampuannya dalam menjelaskan mengapa atau bagaimana memecahkan suatu masalah atau menganalisis bagaimana proses mereka mengkonstruksi pengetahuan, serta mengkomunikasikannya baik lisan maupun tulisan tentang apa yang sudah dan yang belum diketahuinya.

Berikut tahapan menerapkan bembelajaran metode menemukan atau inquiry learning process:
Tahap I. Pengaktifan pengetahuan prasyarat. Pada tahap ini, siswa diingatkan kembali pengetahuan prasyaratnya, untuk mempermudah pemahaman  materi berikutnya, dengan cara, guru memberikan beberapa pertanyaan yang dapat menggali pengetahuan prasyaratnya. Contoh pertanyaan pada pelajaran Science kelas 1 tentang binantang. Pertanyaan yang dapat diajukan; ”Anak-anak apakah kalian tahu binatang? Coba sebutkan!”
Tahap II. Perolehan kemampuan baru. Pada tahap ini siswa diberikan permasalahan yang akan didiskusikan secara berkelompok untuk mencoba  mencari jawaban dan memberikan kesempatan mereka menemukan gagasan-gagasan. Kemudian, hasilnya didiskusikan.
 Tahap III. Pengumpulan ide. Pada tahap ini, siswa melakukan diskusi kelas untuk mengumpulkan ide-ide mereka dengan kelompok lain. Siswa diminta untuk menginstruksi gagasan dari setiap kelompok, untuk disepakati dan dalam hal ini, guru bertindak sebagai fasilitator dalam mengkonstruksi gagasan baru tersebut.
 Tahap IV. Pemantapan ide. Pada tahap ini, siswa diminta untuk menyelesaikan masalah pembemelajaran  yang diberikan oleh guru, untuk memantapkan pengetahuan siswa yang sudah dibangun.
Tahap V. Refleksi Pada tahap ini, siswa diarahkan membuat rangkuman materi yang sudah dipelajari dan guru mengecek kebenaran  konsep tersebut, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kemudian guru memberikan tugas secara individu, yang akan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya, dan hasilnya dinilai untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap konsep tersebut.

Mata pelajaran yang ada di sekolah kami berdasarkan British National Curriculum, Kurkulum Sekolah Islam Terpadu (SIT) dan Kurikulum  Nasional Indonesia:
1.    Din Al Islam dan Baca, Tulis, Hafal, Cinta Al Quran (BTHCQ)
2.    Bahasa Indonesia dan Drama
3.    Bahasa Inggris
4.    Matematika
5.    Sains (IPA)
6.    Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)
7.    Social Science (IPS:Sejarah, Geografi)
8.    Pendidikan Jasmani
9.    Seni Kerajinan dan Teknologi Mendisain (Muatan Lokal)
10.  Musik
11.  Class Meeting (PPKN)

 

Untuk download klik: Kurikulum SDIT Luqman Al Hakim Internasional Yogyakarta



bottom